RSS

Conduct of Vessels in Sight of One Another

15 Nov

Rule 11

Application

Aturan ini berlaku untuk kapal yang dapat melihat satu sama lain.

Rule 12

Sailing Vessels

(a) ketika dua kapal layer bertemu satu sama lain, jadi untuk menghindari tubrukan satu sama lain, salah satu dari mereka harus mengalah sesuai dengan aturan:

(i)ketika kapal memiliki arah angin yang berbeda, kapal yang memiliki angin pada arah port side adalah yang harus mengalah;

 123

(ii) ketika kedua kapal memiliki arah angin yang sama, kapal yang ke arah windward harus mengalah terhadap kapal yang kearah leeward;

123-2

(iii) jika pada kapal yang berlayar pada arah port side melihat kapal kearah windward dan tidak dapat memperkirakan dengan pasti apakah kapal lain tersebut memiliki angina pada arah starboard atau portside, maka kapal yang melihat tersebutlah yang harus mengalah

(b) untuk tujuan peraturan ini sisi windward dianggap sebagai sisi lawan yang bergantung pada sisi mana mainsail bergerak atau dalam kasus kapal square rigged, sisi lawan bergantung pada layar depan atau belakang terluas yang bergerak.

Rule 13

Overtaking

(a) dengan tidak mengesampingkan peraturan pada peraturan B, Sections I dan II, kapal yang melakukan overtaking terhadap kapal, maka kapal yang akan diovertakinglah yang harus mengalah.

(b) sebuah kapal diharuskan melakukan overtaking ketika bertemu dengan kapal lain dari arah yang tidak lebih dari 22.5 derajat abaft lebar kapal, posisi itulah yang menjadi acuan bagi sebuah kapl untuk melakukan overtaking, pada waktu malam dapat hanya melihat sternlight dari kapal itu tapi tidak juga sidelights.

123-3

(c) ketika sebuah kapal mengalami masalah dalam overtaking, kapal tersebut harus segera mengmbil tindakan sesuai peraturan

(d) perubahan haluan yang berikutnya diantara dua kapal tidak boleh membuat kapal yang melakukan overtaking menyilang kapal sesuai dengan peraturan atau mengabaikan kewajibannya untuk menjaga keselamatan kapal yang di overtaking sampai kapal tersebut dalam konsisi aman.

123-4

Rule 14

Head-on Situation

(a) ketika kedua kapal mesin bertemu pada haluan yang saling berhadapan sehingga untuk menghindari terjadinya tubruka masing-masing kapal harus mengubah haluan ke starboard sehingga satu sama lain saling melewati sisi portside.

(b) situasi tersebut dilakukan ketika sebuah kapal melihat kapal lain di depan atau dekat di depan dan pada waktu malam dia dapat melihat lampu-lampu masthead pada kedua sisi dan pada siang hari dia mengamati respon yang di berikan oleh kapal lain.

(c) ketika kapal berada pada kondisi seperti diatas maka kapal harus melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang ada.

123-5

Rule 15

Crossing Situation

Ketika dua kapal mesin bersilangan satu sama lain, maka kapal yang terus adalah kapal yang berada pada starboard dari kapal lain, jika keadaan tersebut dilakukan maka terjadinya crossing dari kedua buah kapal dapat dihindari.

123-6

Rule 16

Action by Give-way Vessel

Setiap kapal yang ingin melakukan penghindaran terhadap kapal lain harus dilakukan sejauh mungkin dan sesegera.

Rule 17

Action by Stand-on Vessel

(a)

(i) ketika sebuah kapal mau menhindari kapal lain maka kapal tersebut harus menjaga haluan dan kecepatannya.

(ii) kapal yang belakangan boleh melakukan penghindaran dengan manuveringnya sediri, sebagaimana dilakukan sesuai peraturan.

(b) ketika, dari sebab apapun, kapal perlu untuk menjaga haluan dan kecepatannya mengetahui bahwa kapal tersebut dekat dengan tubrukan yang tak dapat dihindari oleh action of the give-way kapal itu sendiri, dia harus mengambil langkah terbaik untuk menghindari kecelakaan

(c) A power driven vessel which takes action in a crossing situation sesuai dengan subparagraph (a)(ii) dari peraturan ini, jika keadaan mengijinkan, tidak ada jalur khusus ke pelabuhan untuk kapal yang berada pada bagian portside.

(d) peraturan ini tidak membebaskan adanya give-way kapal terhadap kewajibannya untuk menjaga arah

Rule 18

Responsibilities Between Vessels

Kecuali peraturan 9, 10, and 13 maka harus memenuhi aturan:

(a)kapal mesin yang berlayar maka harus mengalah terhadap:

(i)kapal yang tidak berada di bawah perintah;

(ii)kapal yang terbatas dalam kemampuan manuveringnya;

(iii)kapal yang sedang menangkap ikan;

(iv)kapal layar;

(b) kapal layar yang sedang berlayar harus mengalah terhadap:

(i)kapal yang tidak berada di bawah perintah;

(ii)kapal yang terbatas dalam kemampuan manuveringnya;

(iii) kapal yang sedang menangkap ikan;

(c) kapal yang sedang menangkap ikan ketika berlayar harus mengalah terhadap:

(i)kapal yang tidak berada di bawah perintah;

(ii)kapal yang terbatas dalam kemampuan manuvering.

(d)

(i)kapal selain kapal yang tidak berada di bawah perintah atau kapal yang terbatas dalam kemampuan manuveringnya harus mengalah, jika keadaan mengijinkan, untuk menghindari lintasan kapal yang dibatasi oleh sarat, dengan memperhatikan pada peraturan 28.

(ii) kapal yang dibatasi saratnya harus berlayar dengan hati-hati.

123-7

(e) pesawat air yang berada di atas air harus menaati peraturan ini, umumnya untuk menjaga agar semua keadaan dalam keaadan baik dan tidak menghalangi navigasi kapal. Jika suatu keadaan bagaimanapun juga memungkinkan untuk terjadinya tubrukan maka dia harus memenuhi peraturan ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 November 2009 in Dasar Teory

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: