RSS

Pencegahan Polusi Minyak dari kapal Bag II

01 Agu

USAHA MENINGKATKAN KESELAMATAN PELAYARAN DAN PENCEGAHAN PENCEMARAN OLEH MINYAK DALAM BIDANG KONSTRUKSI DAN PERLENGKAPAN.

Seperti diketahui, sumber polusi yang paling tinggi dewasa ini adalah dari tumpahan minyak bumi. Bahan bakar tersebut sebagai sumber energi utama kebutuhan dunia dan bahan baku Industri Petrokimia, diangkut secara besar-besaran ke seluruh penjuru dunia dengan kapal tangki ukuran raksasa.

Dalam pengangkutnya tidak jarang terjadi kecelakaan yang berakibat mencemari lingkungan perairan dan merusak lingkungan hidup yang tidak ternilai harganya. Karena itu, dewasa ini masalah pencegahan pencemaran minyak menjadi topik utama dalam rangka melindungi lingkungan perairan.

Usaha untuk mencegah pencemaran perairan oleh minyak bumi sangat erat kaitannya dengan konstruksi kapal pengangkutnya yakni kapal tangki dan sistem pemeliharaannya. Karena itu, lMO sebagai badan PBB berusaha untuk mencoba menyempurnakan konstruksi kapal tangki dan memperbaiki peraturan pemeliharaannya. Konvensi dan protokol yang sudah ada terus menerus diperbaiki dan disempurnakan.

Berikut ini adalah serangkaian konsep yang telah dikeluarkan oleh IMO dalam rangka usaha mengurangi secara maksimal tumpahan minyak ke laut.

Peralatan-peralatan yang terintegrasi dalam kapal

Konsep Clean Water Ballast Tanks

A. Clean Ballast Tanks

Dengan tujuan untuk mengurangi pencemaran oleh minyak di pelabuhan, pada mulanya dikeluarkan peraturan mengharuskan setiap kapal tangki yang akan memasuki pelabuhan bongkar muat, mencuci beberapa tanki tertentu untuk diisi dengan air balas bersih. Karena itu, air balas yang dimuat di pelabuhan bongkar yang tercampur dengan sisa minyak dibuang lebih dahulu di laut lepas, diganti dengan air balas bersih yang akan di buang di pelabuhan muat.

B. Segregated Ballast Tanks, Dedicated Clean Ballast Tanks dan Crude Oil Washing System

Telah disadari bahwa dengan Konsep Clean Ballast Tanks di atas, laut tetap dicemari dengan air balas kotor yang dibuang begitu saja ke laut sebelum kapal masuk ke pelabuhan, di samping itu tidak ada jaminan bahwa air balas yang akan dibuang di pelabuhan yang dianggap sudah benar-benar bersih dan terbebas dari kandungan minyak yang dapat membahayakan. IMO mengeluarkan beberapa peraturan tambahan MARPOL 1973/78 yang diberlakukan Oktober 1983 bahwa kapal tangki yang dibangun baru harus memenuhi ketentuan berikut:

1. Semua Crude Oil Kapal tangki ukuran 20.000 DWT atau lebih dan Product Oil Kapal tangki ukuran 30.000 DWT atau lebih harus dilengkapi dengan Segregated Ballast Tanks (SBT) Reg. 13.

2. Semua Crude Oil Kapal tangki ukuran 20.000 DWT atau lebih harus dilengkapi dengan Crude Oil Washing (COW) System Reg. 13 B.

sbt

Gambar  Konsep SBT yakni memisahkan sama sekali sistem air balas dan sistem bongkar muat minyak dan tanki balas tersebut diletakkan di sisi kiri dan kanan bagian tengah tangki muatan dengan tujuan sebagai pelindung bila terjadi tabrakan di daerah tangki muatan (Protectitive Location).

B.1. Crude Oil Washing Systems (COW)

Sistem ini digunakan pada kapal tangki dengan menggunakan prinsip kerja “oil to remove oil”, artinya ketika membersihkan tangki muat, minyak yang berupa crude oil disemprotkan dengan tekanan tinggi menggunakan alat yang bernama Rotating Jets sehingga bisa mengangkat minyak yang menempel di tangki. Selanjutnya sisa air kotor yang bercampur minyak disimpan dalam slop tanks atau disalurkan ke sebuah bak penampungan yang berada di pelabuhan. Konvensi MARPOL pada tahun 1978 mewajibkan setiap kapal tangki baru yang berbobot ≥20.000 ton harus memiliki peralatan Crude Oil Washing. Revisi mengenai peralatanya diperkenalkan pada tahun 1999. Masalah yang berkaitan dengan COW adalah dapat terjadi hubungan pendek arus listrik (static electricity). Selain itu, COW hanya dapat dilakukan pada tekanan atmosfer dengan kandungan oksigen yang sedikit. Di luar kondisi di atas, dapat terjadi ledakan. COW wajib menuruti perundang-undangan dari MARPOL, dan gas inert yang dihasilkan pada proses tersebut diatur pula dalam SOLAS.

B.2. Segregated Ballast Tanks (SBT)

Pada saat sebuah kapal tangki selesai melakukan proses bongkar muat (discharge), ia akan memasukkan air balast untuk menjaga stabilitas agar aman ketika kembali berlayar di lautan. Untuk mencegah pencampuran sisa minyak dengan air balas, maka digunakan tangki balas yang terpisah dengan tangki muat, inilah yang disebut dengan Segregated Ballast Tanks (SBT).

B.3. Oil Discharge Monitoring (ODM) Systems

Ketika membersihkan ruang mesin, akan didapatkan air bilga yang terkontaminasi dengan bahan bakar dan pelumas. Tingkatan(range) kontaminasi pada tiap kapal bisa berbeda-beda, namun dengan peralatan pemantau yang terpasang pada kapal, air bilga yang kotor ini dapat di proses dan dipisahkan sebelum dibuang ke laut. Jika kandungan minyak melebihi batas yang diizinkan yakni maksimal 15 ppm minyak, maka alarm akan menyala dan secara otomatis pembuangan ke laut akan segera dihentikan.

B.4. Seawater Washing

Untuk membersihkan tangki dari kotoran dan residu minyak, dapat juga menggunakan air laut yang dipanaskan lalu disemprotkan dengan tekanan yang sangat tinggi (seawater jets) ketempat dimana terdapat campuran air dengan minyak.

B.5. Pompa Bilga

Air yang berasal dari sumur bilga bercampur dengan bahan bakar dan pelumas, oleh karenanya pompa bilga elektronik didesain agar tidak menimbulkan sebuah percikan api. Pompa bilga elektrik dilengkapi dengan sakelar otomatis yang terapung sehingga ketika air bilga telah mencapai volume tertentu, dengan segera pompa akan hidup. Karena sebuah pompabilga bisa mengalami kegagalan, maka disediakan pompa bilga cadangan. Pompa bilga utama diletakkan pada posisi yang rendah pada bilga sedangkan pompa cadangannya diletakkan lebih tinggi dari pompa utama. Pompa cadangan digunakan hanya apabila pompa utama tidak mampu menangani banjirnya air bilga.

Konsep Duoble Skin atau Double Hulls dan Mid Deck Concept

Konsep double hull dimaksudkan untuk mencegah tumpahan minyak ke laut apabila kapal tangki yang mengangkutnya mengalami tabrakan atau kandas. Pada prinsipnya, konsep ini merupakan penyempurnaan dari konsep SBT. (Amendments Annex I MARPOL 73/78)

Konsep ini sebenarnya bukan konsep baru karena sejak tahun 1970 sudah ada 22 kapal tangki termasuk Combination Carrier telah dibangun dengan konstruksi double hulls yang dikelaskan oleh ABS saja tetapi belum diatur oleh IMO. Pada bulan Maret 1989 terjadi kecelakaan VLCC Exxon Valdes yang kandas di pantai barat Alaska dan menumpahkan lebih dari 30.000 m. Ton minyak ton dan mencemari serta merusak pantai Alaska. Dampak politis dari peristiwa tersebut Presiden AS, Goerge Bush, mengeluarkan peraturan secara sepihak yakni Oil Pollution Act 1990 (OPA 1990) pada tanggal 18 Agustus 1990 dengan ketentuan bahwa semua kapal tangki dengan kontrak pembangunan baru setelah tanggal 30 Juni 1990 dan serah terima setelah tanggal 1 Januari 1994 yang beroperasi di perairan Amerika harus menggunakan konstruksi double hulls.

Peristiwa ini berdampak luas terhadap pembangunan dan pengoperasian kapal tangki, maka Marine Enviroment Protection Committee (MEPC) IMO mulai 1991 membicarakan dalam sidang komite. Hasilnya sidang komite MEPC ke-32 tanggal 2-6 Maret 1992 di London telah disepakati menetapakan sebagai berikut:

”Konsep double bottom untuk kapal tangki ukuran 600 DWT sampai 5000 DWT dan untuk ukuran 5000 DWT atau lebih diberlakukan konsep double hulls atau yang ekivalen. Sedangkan kapal tangki dibawah 600 DWT dibebaskan dari peraturan yang dimaksud.”

Mid Deck Concept merupakan konsep yang ekivalen dengan double hulls yang menjanjikan bahwa apabila kapal ditabrak dari samping di daerah muatan, dengan wing tank yang lebih lebar dapat melindungi tangki muatan, dan bila kandas minyak tidak akan tumpah ke laut tetapi air yang masuk mendorong minyak ke dalam tangki dan air berfungsi sebagai pelapis paling bawah.

Slop Tanks

Untuk menampung sisa-sisa minyak atau emulsi minyak hasil kegiatan bongkar muat dan pembersihan tangki muatan maupun kamar pompa, kapal tangki harus dilengkapi dengan slop tanks dengan kapasitas minimum 2 % dan total kapasitas tangki muatan. Sistem pipa slop tanks dihubungkan dengan tangki muatan sehingga memungkinkan sisa minyak atau emulsi minyak dan tangki muatan tersebut, dimasukkan ke dalam slop tanks. Isi dan slop tanks diendapkan, kemudian air yang sudah mengendap dibuang ke laut melalui Oil Discharge Monitoring (ODM) dengan kandungan minyak tidak lebih dan 15 ppm. Sisa minyak di dalam slop tanks dibongkar ke slop tanks di darat atau dimasukkan ke dalam tangki kembali dicampur dengan muatan dan disebut “Load on Top Procedure”.

Alat Pemantau dan Pengontrol Buangan minyak ke Laut

Untuk memonitor dan mengontrol pembuangan sisa minyak atau campuran minyak dan air ke laut maka dikeluarkan peraturan tambahan untuk MARPOL 1973/1978 sebagai berikut:

- Kapal tangki dengan ukuran 400 GRT atau lebih atau lebih kecil dan 10.000 GRT harus dilengkapi dengan “Oily Water Separating Equipment” untuk menjamin campuran minyak air yang terbuang ke laut sesudah melalui sistem tersebut tidak melebihi kandungan minyak 100 ppm.

- Kapal 10.000 GRT atau lebih harus dilengkapi tambahan peralatan “Oil Discharge Monitoring and Control System” atau “Oil Filtering Equipment” yang menjamin bahwa air yang terbuang ke laut setelah melalui sistem tersebut dan tidak mengandung minyak lebih dari 15 ppm.

Kalau melewati batasan tersebut alarm akan berbunyi. Karena itu, pninsip pencegahan pencemaran yang berasal dari kapal adalah mengurangi semaksimal mungkin minyak tumpah ke laut tetapi kalau terpaksa harus dalam batas-batas tidak sampai merusak lingkungan hidup di laut.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Agustus 2009 in Logistik laut

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: